Pernikahan, dalam lanskap kebudayaan mana pun, selalu menjadi sebuah titik transisi yang dirayakan dengan penuh syukur. Namun, dalam kosmologi budaya Bugis-Makassar, pernikahan jauh melampaui sekadar penyatuan dua insan manusia. Ia adalah sebuah mahakarya sosial, sebuah institusi agung yang menjahit dua entitas keluarga besar (sianang dan siaseng) menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Pernikahan dalam budaya ini adalah sebuah upacara kolosal yang melibatkan seluruh kerabat, tetangga, komunitas, dan serangkaian ritual sarat makna yang membentang selama beberapa hari, bahkan beberapa minggu sebelum hari H.

Di Tanah Daeng, pernikahan selalu diletakkan di atas fondasi Siri' na Pacce sebuah konsep filosofis tentang kehormatan, harga diri, rasa malu, serta empati dan solidaritas sosial. Setiap tahapan, mulai dari lisan yang pertama kali terucap hingga suapan pertama di pelaminan, diatur oleh tata krama yang sangat presisi. Tidak ada ruang untuk kesalahan, karena kesalahan dalam prosesi adat bisa dianggap sebagai cacat pada kehormatan keluarga.

Oleh karena itu, setiap detail dipersiapkan dengan matang, termasuk urusan jamuan dan hantaran adat. Di sinilah kuliner tradisional mengambil peran sentral. Kue-kue tradisional bukan sekadar penganan pelengkap, melainkan utusan budaya yang membawa pesan-pesan filosofis. Di era modern ini, menjaga kelestarian kepingan budaya tersebut difasilitasi oleh dedikasi para penjaga warisan kuliner, seperti yang terus dilestarikan melalui sajian autentik di The Bolu Rampah. Melalui cita rasa yang terjaga, kue-kue tradisional ini senantiasa hadir menemani setiap etape sakral dalam pernikahan adat Bugis-Makassar.

Mari kita selami lebih dalam setiap tahapan prosesi pernikahan agung ini, dari awal penjajakan hingga riuhnya pesta perayaan.


1. Mammanu-manu (Penjajakan Penuh Kehati-hatian)

Jauh sebelum janji suci diikat, prosesi dimulai dengan sebuah langkah yang sangat rahasia, sunyi, namun penuh dengan perhitungan yang cermat. Tahapan ini dikenal dengan nama Mammanu-manu. Secara etimologis dan harfiah, kata ini merujuk pada perilaku "seperti burung yang terbang mengelilingi atau mengintai dari atas".

Pada zaman dahulu, ketika perjodohan masih sangat kental, keluarga pihak laki-laki tidak bisa serta-merta datang membawa rombongan untuk melamar. Ada risiko penolakan yang akan sangat mencoreng wajah atau Siri' keluarga. Untuk memitigasi hal tersebut, dilakukanlah mammanu-manu. Ini adalah tahap penjajakan informal dan diplomasi tingkat intelijen tradisional.

Keluarga laki-laki akan mengutus seseorang biasanya perempuan paruh baya yang memiliki kecakapan berkomunikasi tinggi, luwes, dan memiliki jaringan sosial yang luas (bisa berupa kerabat jauh, tetangga, atau tokoh masyarakat). Utusan ini akan berkunjung ke rumah keluarga perempuan dengan alasan yang disamarkan, misalnya silaturahmi biasa atau menanyakan hal-hal yang sifatnya keseharian.

Tugas utama utusan ini ada tiga: Pertama, memastikan apakah sang gadis yang dituju masih berstatus single (belum diikat oleh keluarga lain). Kedua, "membaca" arah angin, yakni melihat apakah keluarga perempuan tersebut memberikan sinyal keterbukaan jika seandainya ada niat untuk melamar. Ketiga, melakukan semacam due diligence atau observasi terhadap perilaku sang gadis, kondisi keluarga, hingga memperkirakan seberapa besar "kekuatan" yang harus dipersiapkan jika proses ini berlanjut ke tahap pelamaran, terutama terkait urusan adat dan materi.

Tahapan ini dilakukan dengan sangat halus. Bahasa yang digunakan penuh dengan kiasan, perumpamaan, dan metafora. Utusan tidak akan bertanya, "Apakah anak Anda mau dinikahkan?" melainkan menggunakan frasa seperti, "Apakah bunga di taman ini sudah ada yang memetik?" atau "Adakah burung yang sudah bersarang di pohon ini?". Jika jawaban dari tuan rumah bernada positif, barulah keluarga laki-laki menyiapkan diri untuk tahapan selanjutnya yang lebih terbuka. Jika sebaliknya, maka utusan akan mundur dengan teratur, tanpa ada pihak yang merasa kehilangan muka.

2. Madduta / Appalamar (Seni Diplomasi dan Kiasan Tingkat Tinggi)

Jika mammanu-manu membawa angin segar, maka layar kapal siap dibentangkan. Tahap selanjutnya adalah Madduta (dalam bahasa Bugis) atau Appalamar (dalam bahasa Makassar), yang berarti lamaran resmi. Pada hari yang telah disepakati sebelumnya, delegasi dari keluarga laki-laki akan mendatangi kediaman keluarga perempuan.

Delegasi ini bukanlah rombongan sembarangan. Ia dipimpin oleh tetua adat, sesepuh keluarga, atau tokoh yang memiliki otoritas keilmuan dan kefasihan dalam Pappaseng (petuah adat) dan Kelong (puisi/sastra lisan). Mereka datang membawa berbagai bawaan simbolis sebagai bentuk tanda mata pembuka jalan.

Di sinilah puncak dari seni negosiasi budaya Bugis-Makassar terjadi. Perdebatan diplomatis yang elegan akan tersaji di ruang tamu. Topik utamanya sering kali berkisar pada penentuan Uang Panai' (uang belanja/uang naik) dan Sompa (mas kawin). Uang Panai' sering disalahartikan oleh masyarakat luar sebagai bentuk "pembelian" perempuan. Padahal, dalam filosofi Bugis-Makassar, Uang Panai' adalah simbol penghargaan tertinggi laki-laki terhadap derajat perempuan yang akan diperistrinya. Besaran Uang Panai' ditentukan oleh banyak faktor: garis keturunan, tingkat pendidikan, status sosial, hingga profesi sang perempuan. Proses tawar-menawar ini bisa memakan waktu berjam-jam, namun tak pernah dilakukan dengan urat leher yang menegang. Semuanya dibalut dalam senyum, canda yang elegan, pepatah-petitih adat, dan bahasa halus yang memukau.

Kehadiran Bosara dan Peran Simbolis Kuliner The Bolu Rampah

Dalam suasana negosiasi yang intens namun santun tersebut, tuan rumah diwajibkan menjamu tamu dengan penghormatan tertinggi. Dalam budaya Bugis-Makassar, kehormatan itu disimbolkan melalui hidangan Bosara' wadah atau penutup saji tradisional yang di dalamnya tersimpan kue-kue basah warisan leluhur. Menyajikan kue tradisional di hadapan delegasi pelamar adalah sebuah etika wajib yang tak boleh ditinggalkan.

Di sinilah kualitas jamuan merepresentasikan martabat keluarga. Tuan rumah yang memahami adab akan menyuguhkan kue-kue dengan kualitas premium. Menghadirkan jajaran kue tradisional dari The Bolu Rampah di dalam Bosara pada momen Madduta bukanlah sekadar memberikan kudapan, melainkan merangkai doa.

Sajian seperti Bolu Peca' kue berbahan dasar tepung beras, telur, dan baluran gula merah cair yang sangat khas wajib hadir di meja perundingan. Teksturnya yang sangat lembut dan rasanya yang manis paripurna melambangkan harapan tuan rumah agar pembicaraan malam itu (tudang sipulung) berjalan dengan lembut, lancar, dan berujung pada kemanisan kesepakatan tanpa ada pihak yang tersinggung. Ada pula Barongko, adonan pisang yang dikukus dalam daun pisang, menyimbolkan kejujuran (apa yang ada di luar, sama dengan apa yang ada di dalam). Dengan menyajikan keaslian warisan kuliner yang dipertahankan oleh The Bolu Rampah, tuan rumah secara diam-diam mengirimkan pesan bahwa mereka menjunjung tinggi tradisi dan menghargai tamu yang datang dengan niat mulia.

3. Mappettu Ada (Memutuskan Kata dan Mengikat Kesepakatan)

Setelah proses negosiasi diplomatis pada malam Madduta mencapai konklusi, maka tibalah momen Mappettu Ada, yang secara harfiah berarti "memutuskan kata" atau peresmian kesepakatan. Prosesi ini adalah ketukan palu yang menandakan bahwa kedua belah pihak secara resmi telah mengikat janji.

Dalam Mappettu Ada, hal-hal yang dirumuskan sebelumnya kini diresmikan secara terperinci. Ini mencakup pengumuman besaran Uang Panai' secara terbuka di hadapan keluarga besar, penetapan tanggal pernikahan (biasanya dicari hari baik berdasarkan penanggalan Lontara atau penanggalan Hijriah), penentuan jenis dan jumlah seserahan (Erang-erang), hingga detail logistik acara seperti konsep pakaian adat (apakah menggunakan warna hijau, merah, atau keemasan), dan format resepsi.

Erang-erang: Hantaran Cinta dan Filosofi Rasa

Pada tahapan yang berdekatan dengan hari pernikahan, keluarga laki-laki akan membawa Erang-erang atau seserahan. Erang-erang biasanya terdiri dari belasan hingga puluhan nampan yang berisi kebutuhan calon pengantin perempuan (pakaian, perlengkapan rias, perhiasan), serta hasil bumi yang melambangkan kemakmuran seperti kelapa tumbuh, pisang, dan buah-buahan.

Salah satu nampan yang paling ditunggu dan mendapat perhatian besar dari pihak kerabat perempuan adalah nampan berisi kue-kue tradisional. Kue-kue ini nantinya tidak hanya dinikmati oleh keluarga inti, tetapi akan dibagi-bagikan kepada tetangga dan kerabat terdekat sebagai bentuk "pengumuman" bahwa anak perempuan di keluarga tersebut telah resmi diikat.

Keluarga laki-laki modern yang sadar akan nilai estetika, gengsi (siri'), dan rasa yang autentik umumnya akan mempercayakan isi nampan erang-erang ini kepada pembuat kue tradisional terkemuka seperti The Bolu Rampah. Kehadiran sekotak besar Bolu Rampah di tengah barisan erang-erang memiliki daya tarik dan makna yang dalam. Bolu Rampah dengan perpaduan rempah kayu manis dan rempah-rempah lokal lainnya menghasilkan aroma yang sangat harum dan rasa yang kaya. Filosofinya sejalan dengan bahtera rumah tangga: di dalam pernikahan akan ada banyak bumbu dinamika kehidupan, perselisihan kecil, maupun perbedaan pendapat. Namun, jika diramu dengan kesabaran, kedewasaan, dan cinta kasih (layaknya takaran rempah yang pas pada kue), ia akan menghasilkan keluarga yang harum namanya dan harmonis di dalam perjalanannya.

Hantaran berkualitas dari The Bolu Rampah ini memastikan bahwa saat kue dipotong dan dibagikan ke tetangga, yang tersisa hanyalah pujian dan doa restu, menguatkan nama baik keluarga laki-laki sebagai pihak yang dermawan dan menghargai standar kualitas.

4. Mappacci (Malam Pemberkatan dan Pembersihan Diri)

Jika ada satu malam yang paling menguras air mata dan emosi dalam rangkaian pernikahan adat Bugis-Makassar, maka itu adalah malam Mappacci. Dilangsungkan biasanya satu atau dua malam sebelum ijab kabul, Mappacci adalah ritual malam pacar atau malam pengantin.

Namun, Mappacci jauh lebih dalam dari sekadar menghias kuku dengan inai. Kata Pacci itu sendiri serumpun dengan kata Paccing dalam bahasa Bugis yang berarti bersih atau suci. Jadi, Mappacci adalah sebuah ritual purifikasi, pembersihan jiwa dan raga calon pengantin untuk melepaskan masa lajangnya, membuang semua sifat kekanak-kanakan, dan membersihkan hati untuk menyambut hari suci dan tanggung jawab baru sebagai suami atau istri.

Prosesi ini mengundang tamu-tamu kehormatan, pemuka agama, tetua adat, kerabat, dan sahabat dekat. Calon pengantin akan didudukkan di atas pelaminan kecil (lamming) atau di depan dekorasi khusus yang bernuansa magis dan sakral. Di sekelilingnya, disiapkan seperangkat benda perlengkapan Mappacci, di mana setiap helai dan setiap butirnya mengandung doa dan doa dari leluhur.

Berikut adalah anatomi dari makna simbolis alat-alat Mappacci:

  1. Bantal berlapis tujuh (Kallang): Bantal melambangkan penghormatan, kemuliaan, dan kedudukan yang tinggi. Dalam budaya masyarakat agraris, kepala adalah bagian tubuh paling dihormati, dan bantal adalah penyangganya. Lapis tujuh (atau susunan yang berlapis-lapis) melambangkan kesejahteraan yang bertumpuk-tumpuk, serta doa agar pasangan ini kelak selalu meninggikan derajat keluarganya.

  2. Sarung sutera tujuh lembar (Lipa' Sabbe): Sarung yang disusun berlapis ini melambangkan penutup rasa malu (siri'), harga diri, ketekunan, dan keterampilan. Angka tujuh (tujuh lapis) merujuk pada tujuh hari dalam seminggu, doa agar pasangan ini dilindungi dan ditutupi aibnya setiap hari sepanjang waktu.

  3. Pucuk daun pisang (Pucu' Loka): Daun pisang melambangkan kehidupan yang bersambung dan terus tumbuh. Pohon pisang tidak akan mati sebelum ia mengeluarkan tunas baru. Ini adalah doa untuk kesuburan yang berkesinambungan dan regenerasi keturunan yang tiada putus.

  4. Daun nangka (Rau' Panasa): Dalam bahasa Makassar, panasa mirip dengan kata minasa yang berarti cita-cita atau harapan yang luhur. Daun nangka diletakkan sebagai simbol dari niat yang baik, harapan yang tinggi, dan cita-cita mulia dalam membangun rumah tangga.

  5. Benno (Beras yang digongseng hingga mekar): Beras yang mekar merekah melambangkan perkembangan yang baik dan kemakmuran. Beras ini akan ditaburkan ke arah pengantin di akhir usapan pacci, sebagai doa agar rezeki keluarga baru ini kelak mekar dan melimpah ruah.

  6. Lilin (Tai Bani): Tai bani adalah lilin yang terbuat dari sarang lebah. Ia melambangkan cahaya, penerangan, dan suluh kehidupan. Diharapkan pengantin akan selalu mendapatkan jalan yang terang benderang dalam menghadapi gelapnya masalah kehidupan, serta dapat menjadi penerang bagi keluarga dan masyarakat sekitarnya.

  7. Daun Pacar (Pacci) dan Daun Siri': Daun pacar yang telah dihaluskan dan dibentuk bulat diletakkan di atas piring. Ini adalah media utama pemberkatan. Simbol kebersihan dan kesucian niat.

  8. Gula Merah (Golla Cella): Gula merah melambangkan kemanisan hidup. Doa agar rumah tangga yang dibangun selalu diliputi keharmonisan, kerukunan, dan cinta yang manis sampai akhir hayat.

  9. Kelapa (Kaluku): Kelapa merupakan tanaman yang semua bagiannya memiliki manfaat, dari akar hingga ujung daun. Ini melambangkan kekuatan, kemandirian, dan harapan agar pasangan suami istri kelak berguna bagi keluarga dan masyarakat, serta kokoh diterpa badai kehidupan.

Prosesi Penetesan Pacci

Proses Mappacci dimulai dengan pembacaan Al-Barzanji atau doa-doa pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang dilantunkan secara bersahutan oleh tokoh agama. Suasana biasanya sangat khidmat. Aroma dupa (dupa-dupa) yang dibakar dari kayu cendana atau kayu gaharu memenuhi ruangan, menciptakan suasana magis dan syahdu.

Satu per satu, tamu kehormatan yang ditunjuk (biasanya berjumlah ganjil: 7, 9, atau 11 orang yang memiliki rumah tangga bahagia dan rukun) akan dipanggil maju. Mereka mengambil secuil daun pacci, mengusapkannya ke telapak tangan calon pengantin, mendoakannya dalam hati, dan seringkali diakhiri dengan pelukan atau tangisan haru. Air mata hampir selalu tumpah di malam ini, karena ini adalah malam terakhir sang anak tidur di bawah perlindungan total orang tuanya. Besok, ia akan melangkah ke dunia orang dewasa, memikul takdirnya sendiri.

5. Akad Nikah dan Kemegahan Resepsi (Puncak Pembuktian Siri')

Setelah serangkaian prosesi adat dan pembersihan diri, tibalah puncak dari segala rukun, yaitu Akad Nikah (ijab kabul). Akad nikah merupakan jantung dari pernikahan adat Bugis-Makassar karena disinilah titik pertemuan antara kebudayaan leluhur dan syariat Islam. Pakaian adat Baju Bodo yang dikenakan pengantin perempuan dengan warna-warna terang yang menyala—seperti hijau untuk bangsawan, merah untuk gadis, atau corak keemasan dipadukan dengan riasan dahi berhias dadasa, memancarkan aura kemegahan. Pengantin pria mengenakan Jas Tutu', sarung sutera, dan Songkok Recca (songkok to Bone) lengkap dengan keris emas (tappi') yang diselipkan di pinggang sebagai simbol kejantanan, tanggung jawab, dan kesiapan melindungi keluarga.

Prosesi ijab kabul dilakukan dengan sangat sakral. Setelah sah, barulah Uang Panai' dan Sompa (mahar) secara seremonial diserahkan (meski bentuk fisiknya mungkin sudah diserahkan sebagian pada saat Mappettu Ada). Ada pula ritual ketuk pintu (Mappasikarawa), di mana pengantin pria dipandu oleh seorang Puang (penuntun adat) untuk menyentuh bagian tertentu dari tubuh istri untuk pertama kalinya. Sentuhan ini bukan sekadar fisik; jika pria menyentuh ubun-ubun, ia diyakini akan menjadi pemimpin yang menenangkan; jika menyentuh bahu, menandakan bahu-membahu dalam hidup.

Resepsi: Manifestasi Kebesaran Keluarga dan Pesta Kuliner Rakyat

Setelah ikatan suci diucapkan di hadapan Sang Pencipta dan saksi, perayaan beralih ke resepsi. Resepsi pernikahan Bugis-Makassar adalah sebuah perhelatan kolosal. Ini adalah etalase tempat Uang Panai' yang dikumpulkan bermuara. Kemegahan dekorasi, gemerlap lampu, pelaminan yang menyerupai singgasana raja-raja masa lalu, iringan musik daerah seperti Kecapi dan tari Paduppa, semuanya tumpah ruah merayakan dua keluarga yang telah melebur.

Tingkat kehadiran tamu di pesta Bugis-Makassar sungguh luar biasa, tidak jarang menembus angka 2.000 hingga 3.000 orang atau bahkan lebih. Pesta ini adalah ajang reuni raksasa, tempat berkumpulnya kerabat dari kampung halaman yang jauh, rekan bisnis, sahabat dari bangku sekolah, hingga tetangga dari beberapa lorong di sekitar rumah. Semua disambut dengan tangan terbuka.

Dalam resepsi ini, satu hukum adat tak tertulis yang pantang dilanggar adalah: Hidangan tidak boleh habis. Kehabisan makanan saat menjamu tamu di pesta pernikahan adalah aib yang sangat besar (kasirikang). Ini menyentuh ranah Siri' secara langsung. Tuan rumah lebih baik melebihkan porsi katering hingga dua atau tiga kali lipat dari jumlah undangan daripada harus melihat satu tamu pun yang pulang dengan perut kosong atau piring kosong di meja prasmanan. Oleh karena itu, hidangan utama berupa daging (seperti Coto, Pallubasa), ikan (Pallumara), ayam gagape, hingga hidangan penutup disajikan dengan sangat berlimpah.

Jejak Kemanisan The Bolu Rampah di Tengah Pesta Raya

Di tengah lautan menu utama yang berat dan penuh rempah, area hidangan penutup (gubukan atau stan pencuci mulut) selalu menjadi pusat perhatian, terutama bagi tetua keluarga dan tamu VIP yang mencari nostalgia. Di sinilah tradisi modern bersentuhan dengan warisan lokal. Menyajikan deretan jajan pasar dan kue tradisional di area resepsi kini telah menjadi standar kemewahan baru.

Kehadiran produk-produk kebanggaan lokal dari The Bolu Rampah di sudut dessert pelaminan adalah sebuah keharusan kultural yang elegan. Bayangkan di tengah riuhnya suasana resepsi, para tamu dapat menikmati secangkir teh hangat atau kopi susu toraja yang didampingi dengan irisan Bolu Rampah yang lembut atau Kue Cucur yang manis legit.

Sajian dari The Bolu Rampah di resepsi pernikahan bukan sekadar pemanja lidah, tetapi juga jembatan lintas generasi. Anak-anak muda yang mungkin lebih terbiasa dengan penganan modern akan diajak berkenalan kembali dengan cita rasa leluhur melalui kemasan dan presentasi kue tradisional yang higienis, berkelas, dan terjaga kualitasnya. Sementara bagi para tetua (tau matoa) yang hadir, mengunyah kelembutan kue warisan ini membawa mereka pada kenangan masa lalu, mengonfirmasi bahwa keluarga penyelenggara pesta adalah keluarga yang menjunjung tinggi akar budaya mereka (mappakaraja).

Produk-produk thebolurampah yang didominasi oleh unsur gula merah (seperti Bolu Peca dan aneka varian tradisional lainnya) dihidangkan sebagai simbolisasi doa penutup: bahwa setelah letihnya rangkaian prosesi adat yang berhari-hari, setelah perdebatan Uang Panai yang panjang, setelah tangis haru di malam Mappacci, semuanya akan ditutup dengan kemanisan. Semanis rasa gula aren asli, semanis harapan kehidupan berkeluarga bagi sang pengantin baru.


Penutup: Merawat Akar Menumbuhkan Ranting

Prosesi pernikahan adat Bugis-Makassar, dari rintisan langkah Mammanu-manu yang rahasia, negosiasi cerdas dalam Madduta, tangis haru purifikasi di malam Mappacci, hingga pesta kolosal yang membahagiakan di hari resepsi, adalah sebuah mahakarya kebudayaan nusantara. Ia mengajarkan kita bahwa pernikahan bukanlah urusan privat dua individu semata, melainkan urusan publik komunal di mana silaturahmi, gotong royong, rasa hormat (siri'), dan empati (pacce) dipraktikkan secara nyata.

Dan layaknya semua upacara adat di Nusantara, ia tidak akan pernah lengkap tanpa kehadiran kuliner yang mengikat makna-maknanya. Kue-kue tradisional yang tersaji dari awal hingga akhir prosesi bukanlah properti pelengkap; mereka adalah saksi bisu dan doa manis yang bisa dikecap lidah. Dedikasi merek-merek seperti The Bolu Rampah yang mengabadikan resep-resep klasik ini ke dalam standardisasi kualitas premium modern memungkinkan masyarakat Bugis-Makassar masa kini untuk menggelar pesta adat yang praktis, mewah, namun tak sedikitpun kehilangan ruh spiritualitas tradisinya.

Melalui harmoni antara lisan yang menuturkan pappaseng (petuah), busana baju bodo yang memperindah raga, dan sepotong bolu warisan yang memaniskan perjamuan, budaya Bugis-Makassar akan terus hidup, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam keabadian yang wangi dan manis.


Daftar Pustaka

Buku dan Literatur Budaya:

  1. Pelras, C. (2006). Manusia Bugis (Terjemahan oleh Abdul Rahman Abu, dkk.). Jakarta: Nalar dan Forum Jakarta-Paris. (Referensi utama yang mengupas tuntas struktur sosial, sejarah, dan tradisi kehidupan masyarakat Bugis, termasuk peran perempuan dan diplomasi perkawinan).

  2. Mattulada. (1998). Sejarah, Masyarakat, dan Kebudayaan Sulawesi Selatan. Makassar: Hasanuddin University Press. (Rujukan komprehensif mengenai filosofi Siri' na Pacce, status sosial, dan tahapan adat dalam budaya Bugis-Makassar).

  3. Millar, S. B. (1989). Bugis Weddings: Rituals of Social Location in Modern Indonesia. Berkeley: Center for South and Southeast Asia Studies, University of California. (Studi antropologi yang sangat spesifik membahas bagaimana pernikahan Bugis menjadi ajang pembuktian status sosial, gengsi/siri', dan fungsi Uang Panai').

  4. Hamid, A. (2005). Siri' na Pacce: Nilai Filosofis Budaya Bugis-Makassar. Makassar: Pustaka Refleksi. (Buku yang menjelaskan kedalaman makna Siri' dalam menjaga kehormatan keluarga pada setiap upacara siklus hidup, terutama pernikahan).

  5. Abidin, A. Z. (1999). Capita Selecta Kebudayaan Sulawesi Selatan. Makassar: Hasanuddin University Press.