Kalau kamu pernah menginjakkan kaki di Kota Makassar, pasti tidak asing dengan deretan toko oleh-oleh khas Makassar yang memenuhi jalan-jalan utama kota ini. Dari bolu kukus hingga kue tradisional berlapis, kekayaan kuliner Kota Anging Mammiri ini memang tidak ada habisnya untuk dijelajahi. Namun, di antara sekian banyak kue dan jajanan tradisional yang tersebar di berbagai sudut kota, ada satu kue yang memiliki kisah paling menyentuh, paling sarat makna, dan paling dalam mengakar dalam tradisi masyarakat Bugis-Makassar  yaitu kue Sikaporo.

Sikaporo bukan sekadar kue biasa. Ia adalah representasi filosofi hidup masyarakat Bugis-Makassar yang diwariskan dari generasi ke generasi melalui dapur, meja makan, dan upacara adat. Berwarna hijau dan kuning, berbentuk bunga yang cantik dan simetris, kue ini menyimpan cerita panjang tentang kasih sayang, kesetiaan, kemakmuran, dan nilai luhur sebuah keluarga.

Dalam artikel ini, kita akan menelusuri secara mendalam asal mula kue Sikaporo dari kisah legendaris tentang dua gadis bangsawan yang saling mengasihi, hingga bagaimana kue ini bertransformasi menjadi salah satu simbol budaya dan bahkan bagian dari koleksi oleh-oleh khas Makassar yang paling dicari wisatawan. Dan di ujung perjalanan kuliner ini, kita akan berkenalan dengan The Bolu Rampah brand lokal Makassar yang telah menjadikan bolu khas Makassar sebagai jembatan kenangan antara kota ini dan para perantau di seluruh penjuru negeri.

1. Makassar dan Kekayaan Kuliner Tradisionalnya

Makassar adalah kota yang tidak bisa dipisahkan dari kekayaan budaya dan kulinernya. Sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan sekaligus kota terbesar di kawasan Indonesia Timur, Makassar telah lama menjadi pusat peradaban dua suku besar: Bugis dan Makassar. Dua suku ini dikenal memiliki tradisi kuliner yang kaya, unik, dan penuh dengan muatan simbolis.

Tak heran jika berburu oleh-oleh khas Makassar menjadi agenda wajib bagi siapapun yang berkunjung ke kota ini. Mulai dari pisang epe yang disajikan hangat dengan gula merah, pallubasa dengan kuah santan kental yang gurih, hingga berbagai kue tradisional berlapis yang dibuat dengan penuh ketekunan oleh tangan-tangan terampil para pembuat kue lokal.

2. Mengenal Kue Sikaporo: Identitas Visual yang Tak Terlupakan

2.1 Apa Itu Kue Sikaporo?

Kue Sikaporo adalah kue tradisional khas Makassar yang terbuat dari bahan-bahan sederhana namun menghasilkan tampilan yang sangat elegan. Secara visual, Sikaporo sangat mudah dikenali. Kue ini berwarna kuning dan hijau cerah, berbentuk bunga dengan kelopak-kelopak yang simetris dan rapi. Tampilannya yang cantik ini bukan sekadar estetika setiap elemen visual dari Sikaporo memiliki makna yang dalam. Warna hijau melambangkan kemakmuran, kesuburan, dan harapan. Warna kuning melambangkan kemuliaan, tekad, dan keberanian. Bersama-sama, kedua warna ini menjadi simbol persatuan dua jiwa dalam sebuah ikatan pernikahan.

Sumber: RRI.co.id, "Sikaporo, Kue Lapis Bugis yang Penuh Makna", April 2025

Teksturnya lembut, kenyal, dengan rasa manis yang tidak berlebihan dan aroma khas pandan yang harum. Sikaporo terdiri dari dua lapisan: lapisan bawah berwarna hijau yang terbuat dari putih telur, dan lapisan atas berwarna kuning yang menggunakan kuning telur. Varian yang menggunakan kedua lapisan ini disebut Sikaporo Tello, dalam bahasa Bugis berarti telur.

Sumber: Wikipedia Bahasa Indonesia, "Sikaporo", diakses 2025


2.2 Bahan-Bahan Pembuatan Sikaporo

Keindahan kue Sikaporo justru tersembunyi di balik kesederhanaannya. Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat kue ini relatif mudah ditemukan di pasar tradisional maupun modern mana pun:

Tepung beras menjadi bahan dasar yang memberikan tekstur kenyal yang khas pada Sikaporo. Santan kental dari kelapa segar memberikan rasa gurih yang menjadi pembeda utama kue ini dari kue manis biasa. Telur ayam terutama kuning dan putihnya yang dipisahkan menjadi komponen kunci untuk menciptakan dua lapisan warna yang berbeda. Gula pasir memberikan tingkat kemanisan yang pas.

3. Asal Mula Kue Sikaporo: Kisah Legendaris dari Tanah Bugis

3.1 Legenda Dua Gadis Bangsawan

Di balik tampilannya yang sederhana namun cantik, kue Sikaporo menyimpan sebuah kisah legendaris yang turun-temurun diceritakan di kalangan masyarakat Bugis-Makassar. Kisah ini bukan hanya cerita tentang asal-usul sebuah kue, melainkan pelajaran tentang kasih sayang yang tulus, kesetiaan persaudaraan, dan kekuatan cinta yang melampaui batas darah dan keturunan.

Konon, dahulu kala di sebuah kerajaan di tanah Bugis, hiduplah dua gadis bangsawan yang merupakan saudara tiri. Keduanya masih anak-anak ketika pertama kali dipertemukan. Meskipun tidak lahir dari ibu yang sama dan tidak memiliki darah yang sepenuhnya sama, ikatan yang terjalin di antara keduanya jauh melampaui hubungan saudara kandung manapun.

Mereka selalu bermain bersama, berbagi makanan, berbagi cerita, dan saling menjaga satu sama lain. Di mata orang-orang sekitar mereka, kedua gadis kecil bangsawan itu adalah simbol nyata dari ketulusan kasih sayang bahwa cinta sejati tidak mengenal batas darah, tidak mengenal status, dan tidak mengenal perbedaan asal-usul.

Sumber: Sulawesi Network, "Kue Sikaporo memiliki kisah legendaris yang penuh dengan makna", Maret 2024

Ketika keduanya tumbuh dewasa, nama dan cerita tentang kerukunan mereka menjadi inspirasi bagi para pengrajin kue di lingkungan istana. Seorang juru masak kerajaan yang mengagumi ikatan persaudaraan keduanya kemudian menciptakan sebuah kue yang menggambarkan persatuan dua entitas yang berbeda namun saling melengkapi kue berlapis dua warna yang kemudian dinamai Sikaporo.

Warna hijau melambangkan salah satu gadis segar, alami, penuh harapan. Warna kuning melambangkan saudarinya cerah, hangat, dan penuh keberanian. Ketika dua lapisan ini dipadukan dalam satu cetakan bunga, jadilah Sikaporo: simbol dari dua yang berbeda namun satu dalam kasih dan tujuan.

3.2 Sikaporo sebagai Hidangan Eksklusif Kaum Bangsawan

Sejarah mencatat bahwa pada masa-masa awal keberadaannya, kue Sikaporo adalah hidangan yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan bangsawan. Di kerajaan-kerajaan Bugis yang tersebar di wilayah Sulawesi Selatan, kue ini disajikan dalam acara-acara istimewa di dalam lingkungan istana mulai dari perjamuan kerajaan, upacara adat, hingga perayaan kelahiran putra-putri bangsawan.

Sumber: TIMES Indonesia, "Menelusuri Kelezatan Sikaporo, si Kue Bugis ala Makassar", Februari 2024

Status eksklusif Sikaporo pada masa itu bukan tanpa alasan. Dalam konteks sosial masyarakat Bugis-Makassar yang sangat hierarkis, makanan bukan sekadar kebutuhan biologis melainkan penanda status, simbol kekuasaan, dan ekspresi identitas budaya. Kue-kue tertentu diciptakan khusus untuk lapisan tertentu dalam masyarakat, dan Sikaporo adalah salah satu yang paling bergengsi.

Para bangsawan percaya bahwa menyajikan Sikaporo dalam sebuah upacara adalah cara untuk memanggil keberkahan kemakmuran yang dilambangkan oleh warna hijau, dan kemuliaan yang dilambangkan oleh warna kuning, diharapkan melingkupi siapapun yang hadir dalam jamuan tersebut.

The Bolu Rampah: Menjembatani Tradisi dan Kenangan

4.1 Sejarah dan Semangat di Balik Brand

Berbicara tentang oleh-oleh khas Makassar di era modern tidak akan lengkap tanpa menyebut The Bolu Rampah. Brand lokal yang kini telah memiliki lebih dari 20 outlet cabang yang tersebar di berbagai titik strategis di Makassar dan sekitarnya ini telah menjadi salah satu ikon baru dalam peta kuliner oleh-oleh Makassar.

Sumber: The Bolu Rampah, "Oleh-Oleh Khas Makassar Penuh Rasa dan Cerita", thebolurampah.com

The Bolu Rampah lahir dari sebuah keyakinan yang sederhana namun kuat: bahwa kekayaan kuliner Makassar tidak bisa dilepaskan dari karakter rempahnya yang khas. Nama "rampah" dalam bahasa lokal berarti rempah sebuah pilihan kata yang dengan berani menempatkan identitas kuliner Makassar sebagai inti dari brand ini. Sang pendiri The Bolu Rampah percaya bahwa setiap gigitan bolu yang mereka buat harus bisa membawa siapapun yang memakannya kembali ke kenangan indah tentang Makassar.

Perjalanan The Bolu Rampah dimulai dari skala kecil produksi pertama yang hanya dibuat untuk keluarga dan teman dekat. Namun rasa yang unik, autentik, dan penuh cerita membuat bolu ini cepat mencuri perhatian. Dari mulut ke mulut, nama The Bolu Rampah menyebar di antara para perantau asal Makassar yang rindu akan cita rasa kampung halaman.

Ada benang merah yang menghubungkan kue Sikaporo dengan bolu rampah dari The Bolu Rampah keduanya adalah ekspresi otentik dari identitas kuliner Makassar yang dibuat dengan penuh kasih sayang, menggunakan bahan-bahan lokal terbaik, dan diwariskan dari generasi ke generasi dengan semangat untuk melestarikan rasa asli kampung halaman.

Sikaporo mengajarkan kita bahwa makanan bisa menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai luhur kelembutan, kesederhanaan, persatuan yang diharapkan hadir dalam sebuah keluarga. The Bolu Rampah, dengan cara yang berbeda namun sejiwa, mengajarkan hal yang sama: bahwa sepotong bolu yang dibuat dengan cinta bisa menjadi jembatan emosi yang menghubungkan seseorang dengan kenangan terbaiknya tentang rumah dan kampung halaman.

Keduanya juga berbagi komitmen terhadap keaslian. Sikaporo dibuat dari bahan-bahan alami yang sederhana namun berkualitas. Bolu Rampah dari The Bolu Rampah dibuat dari bahan-bahan pilihan termasuk gula merah dari petani lokal Bone. Keduanya menolak kompromi terhadap kualitas demi kuantitas.

Dan mungkin yang paling penting, keduanya adalah bukti bahwa warisan kuliner Bugis-Makassar tidak perlu dilestarikan hanya dalam museum atau buku teks ia bisa dan harus tetap hidup, berkembang, dan dinikmati oleh setiap generasi baru. The Bolu Rampah adalah salah satu penjaga warisan ini brand lokal yang dengan bangga membawa cita rasa Makassar ke seluruh Indonesia dengan kemasan modern namun tetap mempertahankan jiwa tradisionalnya.

Generasi muda, khususnya, memiliki peran krusial dalam pelestarian ini. Dengan mendokumentasikan resep-resep tradisional, berbagi cerita di media sosial, mendukung UMKM kuliner lokal, dan tentu saja dengan terus memakan dan menghargai kue-kue tradisional ini, generasi muda bisa menjadi penjaga warisan yang paling efektif di era digital ini.

Sikaporo sudah berhasil melampaui ujian waktu dari meja makan bangsawan kerajaan Bugis ratusan tahun yang lalu, kini ia hadir di toko-toko kue modern, di foto-foto Instagram, dan dalam kotak oleh-oleh yang dibawa perantau dari seluruh penjuru negeri. Ini adalah keberhasilan kolektif yang patut kita rayakan dan teruskan.


Jadi, jika kamu berada di Makassar dan sedang mencari oleh-oleh yang tidak hanya lezat tetapi juga penuh cerita, kunjungi The Bolu Rampah di salah satu dari lebih 16+ outletnya yang tersebar di seluruh kota. Dan jangan lupa untuk juga mencicipi Sikaporo kue cantik berwarna hijau dan kuning yang telah menemani perayaan-perayaan paling berharga dalam kehidupan masyarakat Bugis-Makassar selama berabad-abad.

Karena di Makassar, setiap kue punya cerita. Dan cerita yang paling indah adalah yang dibagikan bersama orang-orang yang kita cintai.



Daftar Referensi / Sumber

  1. Wikipedia Bahasa Indonesia. "Sikaporo". https://id.wikipedia.org/wiki/Sikaporo (diakses Mei 2025).

  2. RRI.co.id. "Sikaporo, Kue Lapis Bugis yang Penuh Makna". https://rri.co.id/makassar/kuliner/1465205 (April 2025).

  3. TIMES Indonesia. "Menelusuri Kelezatan Sikaporo, si Kue Bugis ala Makassar". https://timesindonesia.co.id/gaya-hidup/486786 (Februari 2024).

  4. Sulawesi Network. "Kue Sikaporo memiliki kisah legendaris yang penuh dengan makna". https://www.sulawesinetwork.com (Maret 2024).

  5. Budaya Indonesia. "Kue Sikaporo" dan "Sikaporo khas bugis". https://budaya-indonesia.org (diakses 2025).

  6. InfoBudaya.net. "Kue-kue Kasih Sayang Khas Sulawesi". https://www.infobudaya.net/2018/02 (Februari 2018).

  7. GenPI.co. "Kue Sikaporo, Makanan Bangsawan Suku Bugis Makassar". https://www.genpi.co/travel/21323 (September 2019).

  8. Poskota Sulsel. "Resep Kue Sikaporo, Kue Khas Bugis Makassar". https://sulsel.poskota.co.id (Juni 2021).

  9. TokoWahab Blog. "Resep Kue Sikaporo Bugis, Sajian Khusus Untuk Bangsawan Zaman Dulu". https://blog.tokowahab.com (Agustus 2024).

  10. The Bolu Rampah. "Oleh-Oleh Khas Makassar Penuh Rasa dan Cerita". https://thebolurampah.com/blog-infounik/oleh-oleh-khas-makassar-penuh-rasa-dan-cerita (2024).

  11. The Bolu Rampah. "Bolu Pisang Terenak di Makassar untuk Oleh-Oleh yang Wajib Dicoba". https://thebolurampah.com/blog-infounik/bolu-pisang-terenak-di-makassar (2024).

  12. The Bolu Rampah. Instagram @thebolurampah dan TikTok @thebolurampahofficial. Diakses Mei 2025.